Hari semakin berlalu dan Usiaku semakin
bertambah dan aku mulai memasuki taman kanak-kanak.. kemudian masuk SD umum,
“bu, aku suka sekolah “ Ayah dan Ibu sangat senang melihatku begitu bahagia
Selama dikelas satu aku selalu rajin
belajar dan belajar membaca iqra, Alhamdulillah akhirnya aku naik dikelas 2 SD dengan rafor rata-rata 7, Ayah dan Ibu sangat
bangga atas hasil yang ku capai selama ini.
Anakku, apa yang ada padamu itu adalah anugerah.
Entah darimana aku mulai mengetahui
kekuranganku, setahuku dari ejekkan teman-temanku.“Dilla Tuli... Dilla tuli...
Dilla tuli...hahahahaha´ ejek temanku setiap jam istirahat sekolah“. kata-kata itu selalu menyerang semangatku dalam beraktivitas mulai bermain sampai belajarpun surut.
Semangat yang telah lama tertanam
dihati kemudian pupus hilang ditelan badai pilu membuat diriku merasa paling terpukul...
tak lagi terdengar tawa dan omelan dari mulutku.. sampai dirumah ku berlari ke
pelukan ibu.
“ibu... kenapa teman-temanku
mengejekku ibu, apakah aku benar-benar tidak bisa mendengar ibu, kenapa aku tidak tahu bu“ `kataku lirih
meratap memegang kedua telingaku..
Ibu shcok dan kaget mendengar kata-kata aku
barusan. ibu tak menyangka semua yang terjadi. air mata ibu jatuh dan mulai
memelukku..
Ibu... kenapa bisa begini sedangkan
teman-teman aku bisa mendengar, apa Tuhan tidak sayang sama kita bu.?? kataku tak bisa menahan perasaanku begitu
terluka.
Ibu menjawab pertanyaanku dengan hati-hati “anakku.. semua apa
yang kamu miliki itu adalah pemberian tuhan. Kamu itu cantik nak, tidak ada manusia yang sempurna.. kamu lihat di tevi ada orang
gak punya tangan dan kaki, sedangkan kamu punya tangan dan kaki,, bershukurlah
nak, semua itu anugerah pemberian Allah, Allah memiliki cara nak , jika apa yang ada pada kita itu adalah terbaik maka percayalah bahwa apa yang diberikan oleh Allah itulah yang terrbaik” , kata ibu sambil menitik air mata
satu persatu.
Kata-kata ibu membuatku merasa
bersalah karena aku telah membuat ibu menangis dan menyalahi kekuranganku.
Ibu... apa yang harus aku lakukan
untuk menghadapi kekuranganku.mereka mengejekku ibu.
“Anak ku... bersabarlah dan menerima
dengan lapang dada.. berdo`a dan rajin
shalat semoga allah mnyembuhkan penyakitmu..”
Ya ibu...
Aku masih merasa sedih mengingat dengan kondisi
aku dan sekolahku nantinya, ejekan dari
teman terus berlanjut tiada henti-hentinya menjadikan aku merasa rendah diri, aku hanya bisa menangis...menangis... didalam
kelas, Aku tak punya teman yang bisa aku
ajak melupakan kesedihanku.. aku hanya bisa mengadu kepada Yang diatas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan tinggalkan jejak dan terimakasih telah meninggalkan rindu disini